Posts Tagged ‘Artikel’

[CARA MELINDUNGI DIRI DARI FITNAH DAJJAL]
—————————————–
1. Ia meminta perlindungan kepada Allah dari fitnahnya, memperbanyak doa tersebut terutama ketika membaca tasyahhud akhir dalam shalatnya.
Sebab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Jika salah seorang diantara kalian telah menyelesaikan bacaan tasyahhud akhirnya, hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat hal. Hendaknya ia berkata : ‘Ya Allah, aku memohon perlindungan pada Mu dari siksa Neraka Jahannam, adzab kubur, fitnah (cobaan) hidup dan mati serta dari keburukan fitnah al Masih ad Dajjal.”

2. Hendaknya ia menghafal sepuluh ayat pertama surat al Kahfi. Sebab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surat Al Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim dan lainnya riwayat dari Abud Darda’).

3. Hendaknya ia menjauh dari Dajjal dan tidak sengaja mendekatinya. Kecuali jika ia yakin bahwa Dajjal tidak akan dapat mempengaruhinya karena ia sangat tsiqah kepada Rabb-nya, juga karena ia telah mengetahui tanda tandanya sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, sebab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Barangsiapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya ia berupaya menjauh darinya, sebab -demi Allah- sesungguhnya ada seseorang yang mendekatinya (Dajjal) sedang ia mengira bahwa Dajjal tersebut mukmin kemudian ia mengikutinya karena faktor subhat yang ditimbulkan olehnya.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan lainnya dari ‘Imran bin Hushain).

4. Hendaknya ia berusaha bermukim di Makkah atau Madinah. Sebab keduanya merupakan tempat mulia dan tidak akan dijamah oleh Dajjal. Sebab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Dajjal akan muncul dan menginjakkan kakinya di muka bumi kecuali Makkah dan Madinah. Ia akan datang ke Madinah, akan tetapi ia mendapati di setiap sudutnya para Malaikat yang berbaris.” (Dikeluarkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dan perawi lain dari Anas bin Malik).

Begitu pula masjid al Aqsha dan tanah Ath Thur sebagaimana tertera di (paragraf 24).

[KRONOLOGI KISAH AL MASIH AD DAJJAL DAN TURUNNYA ISA ALAIHIS SALAM, SERTA TERBUNUHNYA DAJJAL OLEH ISA ALAIHIS SALAM BERDASARKAN RIWAYAT ABU UMAMAH DENGAN TAMBAHAN RIWAYAT YANG SHAHIH DARI SHAHABAT YANG LAIN]
—————————————————
1. Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi ini -semenjak Allah menciptakan keturunan Adam [dan tidak ada fitnah sehingga hari kiamat tiba] – yang lebih besar dari fitnah Dajjal, [dan tidak ada seorangpun yang selamat sebelum itu melainkan ia akan dapat selamat darinya], dan sesungguhnya fitnah itu tidak dapat memberi madharat kepada seorang muslim.)

2. (Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus seorang Nabi, melainkan telah memperingatkan kaumnya [fitnah makhluk yang buta sebelah matanya] Dajjal, [dan sesungguhnya aku telah memperingatkan kalian akan fitnahnya].

…..

6. Dan sungguh ia akan muncul [dari[bumi] belahan timur]. [Yang bernama ‘Khurasan’], [Di tengah orang orang Yahudi Ashfahan], [wajah wajah mereka seperti wajah orang orang Turki], (dari arah ‘Khallah’ yang terletak antara Syam dan Iraq, kemudian ia membuat kerusakan ke arah kanan [dan membuat kerusakan] ke arah kiri. Wahai hamba hamba Allah! Tetap teguhlah
[Diucapkannya tiga kali].

7. Sesungguhnya, aku akan menjelaskan sifat dari ciri ciri Dajjal dengan penjelasan yang belum pernah disampaikan oleh seorang Nabi pun sebelumku. (Di dalam hadits ‘Ubadah, ‘Sungguh aku telah bercerita banyak kepada kalian tentang Dajjal, sampai sampai aku khawatir kalian tidak menyerap dan mengertinya).

8. Di awal kemunculannya, ia berkata: “Aku Nabi, dan tidak ada Nabi sesudahku.”

9. Kemudian ia (Dajjal) memuji dirinya dengan mengatakan; “Aku adalah Rabb kalian, dan (sabda Rasul) ingat, kalian tidak akan dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati.

…..

13. Ia berkulit sawo matang dan berambut keriting, dan rambutnya kusut, tidak rapi.

14. Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’, yang dapat dibaca oleh [orang yang membenci perbuatannya, atau dapat dibaca] oleh setiap orang mukmin yang mengerti baca tulis ataupun tidak. (lebih…)

Di antara tanda Kiamat kubro adalah keluarnya Ya’juj Ma’juj dari kurungannya. Keluarnya mereka sebagai tanda Kiamat kubro wajib kita imani karena dalil-dalil menetapkannya.

Firman Allah, “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.” (Al-Anbiya’: 96-97).

Keluarnya mereka adalah keburukan yang dekat yang telah diperingatkan oleh Rasulullah saw.

Dari Zaenab binti Jahsy bahwa Nabi datang kepadanya dengan tergopoh-gopoh. Beliau bersabda, “La ilaha illallah, celaka orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat, pada hari ini benteng Ya’juj Ma’juj dibuka seperti ini.” Rasulullah melingkarkan ibu jarinya dengan jari telunjuknya. (Muttafaq alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1341, Mukhtashar Shahih Muslim no. 1987).

Dalam surat al-Kahfi Allah menjelaskan bahwa Ya’juj Ma’juj dikurung oleh Dzulkarnain dengan baja karena mereka berbuat rusak di bumi sehingga mereka tidak keluar darinya sampai tiba saatnya janji Allah.

Firman Allah Taala, “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.’ Dzulkarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah Aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain, ‘Tiuplah (api itu)’, hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, ‘Berilah Aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulkarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar” (Al-Kahfi: 93-98). (lebih…)

Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama.

Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai (“Kepulauan Laut Selatan”).

Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (“Kepulauan Tanah Seberang”), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (“Pulau Emas”, diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi (“kemenyan Jawa”), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “orang Jawa” oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi (“semuanya Jawa”).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 19421945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini. (lebih…)

Setiap hari kita menggunakan banyak alat hasil penemuan para ilmuwan yang mempermudah kita melakukan sesuatu. Dari yang paling sederhana misalnya sendok dan palu. Penemuan yang kompleks misalnya mobil dan telepon.

Banyak orang berpikir bahwa hanya manusia yang menciptakan alat. Jangan salah, hewan juga banyak menggunakan alat bantu. Apa saja penemuannya? simak yuk!

Semut api menggunakan lumutnya untuk menyerap air dan membawanya ke sarang. Berang-berang laut menggunakan batu sebagai palu untuk membuka cangkang kerang. Apakah sejak lahir mereka mengetahui hal ini? Ataukah mencontoh penemuan berang-berang yang lain?

Para ilmuwan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mengamati binatang di alam. Mereka telah mencatat bahwa semua berang-berang laut-muda dan tua-menggunakan batu untuk memecahkan cangkang keras. Pada dasarnya semua melakukannya dengan cara yang sama.

Dan semua semut api menggunakan lumut dengan cara yang sama juga. Jadi penggunaan alat oleh berang-berang dan semut api mungkin merupakan kemampuan bawaan.

Penemuan Simpanse

Simpanse menggunakan ranting untuk menangkap rayap. Ia mematahkan ranting dengan panjang ideal. Lalu dengan hati-hati menusukkan alat ke lubang dalam gundukan rayap.

Rayap menyerang tongkat, dan tongkat itu ditariknya keluar, telah dikerubuti oleh rayap lezat. Tidak seperti berang-berang laut, simpanse secara individu membuat dan menggunakan alat berbeda.

Simpanse muda belajar keterampilan dengan menonton simpanse lebih tua. Beberapa kali yang muda membuat penyelidikan dari sebuah ranting, alat ini kasar dan tidak bekerja dengan baik.

Dengan berlatih, simpanse muda meningkatkan keterampilan mereka membuat alat. (lebih…)